Cerita ABG, Memek Abg, Liarnya lidah Angel Muridku | Part-3


Cerita ABG, Memek Abg, Liarnya lidah Angel Muridku | Part-3

Cerita ngentot abg sebelumnyaCerita ABG, Memek Abg, Liarnya lidah Angel Muridku | Part-2

Celana dalam Angel itu semakin basah. Belahan bibir Memek nya semakin jelas terlihat. Cairan yang keluar dari memeknya semakin banyak bermuara seperti memaksa ingin keluar. Cairan itu bercampur dengan air liur. Karena tak tahan lagi menerima kenikmatan yang mendera Memek nya, sebelah tangannya menjambak rambut Wisnu, dan yang sebelah lagi menekan bagian belakang kepala.
"Wisnu, aarrgghh! Angel seperti ingin pipis..!" kata gadis itu di sela-sela rintihannya. Wisnu menghentikan jilatan lidahnya. Ia menengadah dan melihat mata gadis itu sedang terpejam.
"Angel ingin pipis, Sayang?" tanyanya sambil menyisipkan jari telunjuk ke balik celana dalam yang menutupi bibir Memek gadis itu, lalu ditariknya ke samping.
Terpampanglah di hadapannya Memek seorang gadis remaja yang sedang dilanda birahi. Masih kuncup tetapi menebarkan janji untuk segera merekah dihisap serangga yang menghinggapinya. Dengan jari telunjuk, dibukanya sedikit bibir luar Memek berlendir itu. Lipatan yang sedikit terbuka hingga memperlihatkan Memek yang bersih, segar dan berwarna pink. Melihat hal itu, ia memutuskan untuk memberikan cumbuan terbaik. Cumbuan yang sulit untuk dilupakan, yang akan membuat gadis itu menjadi jinak. Ia merasa mampu untuk melakukan hal itu. Dan sebagai balasannya, mungkin ia akan mendapatkan perlakuan yang sama. Mempertimbangkan hal itu, ia menenggelamkan dan menggosok-gosokkan hidungnya ke belahan bibir vagina gadis itu. Semakin ditekan hidungnya, semakin semerbak aroma yang memenuhi rongga paru-parunya.



Angel membuka kelopak matanya. Bola matanya seolah ditutupi kabut basah dan terlihat mengkilat ketika ia menunduk menatap wajah gurunya yang terselip di pangkal pahanya. Ia tak bisa mengucapkan kata-kata. Bibirnya terasa kelu. Kaku. Nafasnya terengah-engah. Mulutnya setengah terbuka megap-megap menghirup udara. Ia terpaksa menggeliatkan pinggulnya untuk menahan cairan yang terasa ingin mengalir keluar dari Memek nya. Ia tidak tega 'mem-pipisi' mulut guru matematikanya itu.

Dicobanya mendorong kepala itu agar terlepas dari Vagina nya. Tapi kepala itu malah sengaja semakin ditekan ke pangkal pahanya. Dicobanya untuk menarik pinggulnya. Tapi kedua lengan guru yang sangat disayanginya itu semakin kuat merangkul pinggulnya. Walau telah mencoba meronta, mulut yang memberinya kenikmatan itu tetap menghisap-hisap Memek nya. Semakin meronta, semakin keras remasan tangan di kedua bongkahan pantatnya. Dan semakin keras pula tarikan di bongkahan pantatnya agar Vagina nya tak lepas dari hisapan dan jilatan mulut itu.

Akhirnya ia menyimpulkan bahwa mulut itu memang ingin 'dipipisinya'. Mulut itu memang sengaja ingin memanjakan Memek nya. Kesimpulan itu membuat ia melayang semakin tinggi dalam kenikmatan, membuat lendir semakin banyak mengalir ke lubang Vagina nya. Sedikit pun ia tak merasa ragu ketika mengangkat kakinya yang terjuntai di atas karpet, dan melilitkan betisnya di leher lelaki itu. Ia sudah tak ingin kepala itu lepas dari pangkal pahanya. Bahkan ia mempererat tekanan betisnya di leher lelaki yang sedang memanjakannya itu. Selain menggunakan betis dan paha, ia pun menggunakan kedua lengannya untuk menjambak rambut dan menekan bagian belakang kepala lelaki itu lebih keras. Ia ingin membantu agar mulut itu terbenam di dalam Vagina nya ketika ia mengeluarkan 'pipisnya'.

Lidah Wisnu telah merasakan bibir dan dinding vagina itu berdenyut-denyut. Ia pun dapat merasakan hisapan lembut di lidahnya, seolah vagina itu ingin menarik lidahnya lebih dalam. Sejenak, ia mengeluarkan lidahnya untuk menjilat dan menghisap bibir vagina mungil itu. Dikulumnya berulang kali. Bibir vagina itu terasa hangat dan sangat halus di lidahnya. Ia menyelipkan lidahnya kembali ketika menyadari bahwa tak ada lagi cairan lendir yang tersisa di bibir luar. Dijilatinya kembali dinding dan bibir dalam vagina gadis remaja itu.
"Wisnu, Wisnu.., Angel nggak tahan lagi. Angel ingin pipiis!"
Wisnu semakin bersemangat menjilat dan menghisap-hisap. Lidahnya yang rakus seolah belum terpuaskan oleh lendir yang telah dihisapnya. Kumisnya sesekali menyapu bibir luar vagina yang segar itu, membuat pinggul gadis itu terhentak-hentak di atas sofa. Walaupun kepalanya terperangkap dalam jepitan paha dan betis, tetapi ia dapat merasakan setiap kali pinggul gadis itu terangkat dan terhempas. Berulang kali hal itu terjadi. Terangkat dan terhempas kembali. Sesekali pinggul itu menggeliat menyebabkan kumisnya menjadi basah.

Ia dapat memastikan bahwa dalam hitungan detik sejumput lendir orgasme akan mengalir ke kerongkongannya. Dan ketika merasakan rambutnya dijambak semakin keras diiringi dengan pinggul yang terangkat menghantam wajahnya, ia segera mengulum klitoris gadis itu. Dikulumnya dengan lembut seolah klitoris itu adalah sebuah permen cokelat yang hanya mencair bila dilumuri air ludah. Sesekali dihisapnya disertai tarikan lembut hingga klitoris itu hampir terlepas dari bibirnya. Ketika merasakan pinggul gadis itu agak berputar, dijepitnya klitoris itu dengan kedua bibirnya agar tak lepas dari hisapannya.
"Angel pipis, Wisnu!!! Aargh.. Aarrgghh..!"
Wisnu menjulurkan lidah sedalam-dalamnya. Bahkan ditekannya lidah dan kedua bibirnya agar terperangkap dalam jepitan bibir vagina itu. Ia tak ingin kehilangan kesempatan mereguk cairan orgasme langsung dari vagina seorang gadis remaja cantik dan seksi. Cairan orgasme yang belum tentu ia dapatkan dari murid lainnya. Setelah mencicipi rasa di ujung lidahnya, dihisapnya cairan itu sekeras-kerasnya. Direguknya lendir itu dengan lahap. Lalu dibenamkannya kembali hidungnya di antara celah bibir vagina yang berdenyut-denyut itu.

Ia ingin menghirup aroma paling pribadi yang dimiliki seorang gadis belia. Dengan gemas, ia menghirup aroma itu dalam-dalam. Dan ketika merasakan pinggul gadis itu terhempas kembali ke atas sofa, Wisnu menjilati Vagina nya. Setetes lendir pun tak ia sisakan! Bahkan lendir yang membasahi bulu-bulu ikal dan bulu-bulu halus di sekitar vagina gadis itu pun dijilatinya. Bulu-bulu itu jadi merunduk rapi seperti baru selesai disisir!
"Wisnu.., ooh, aarrgghh.., Wisnu! Enak banget, Wisnu..! Aargh.., pipis Angel kok diminum?" desah gadis itu terbata-bata sambil mengusap-usap rambut Wisnu. Setelah menjilati vagina Angel hingga bersih, Wisnu menengadah.
"Pipis Angel enak banget! Kecut. Agak asin. Tapi ada manisnya!" jawabnya.
"Suka ya minum pipis, Angel?"
"Suka banget! Mau pipis lagi?"
"Hmm.." kata gadis itu dengan manja. Merajuk.
"Benar suka?" sambungnya.
"Suka! Ini tanda sayang dan suka," kata Wisnu sambil menunduk dan mengulum sebelah bibir luar memek gadis itu.
Angel tertawa kecil. Senang. Bangga. Merasa dimanjakan. Tersanjung karena telah merasakan nikmatnya menjepit kepala guru matematika kesayangannya di pangkal pahanya. Nikmat yang baru pertama kali ia rasakan. Tapi tiba-tiba bola matanya terbuka lebar ketika melihat Wisnu membungkuk melepaskan celana sekaligus celana dalamnya dengan sekali tarikan. Dalam hitungan detik, celana itu teronggok di atas karpet. Dan ia bergidik melihat batang Kontol gurunya. Kontol itu berwarna cokelat. Panjangnya kira-kira 15 cm. Kontol itu hanya berjarak setengah meter dari matanya. Dan karena baru pertama kali melihat kemaluan lelaki, gadis remaja itu terkesima. Kelopak bola matanya terbuka lebar ketika ia mengamati urat-urat berwarna biru kehijauan yang terlihat menghiasi kulit batang Kontol itu.

Wisnu menarik pinggul Angel hingga sedikit melewati pinggir sofa. Lalu ia mengarahkan batang penisnya ke vagina gadis itu. Angel tekejut. Dengan refleks ia menarik pinggulnya.
"Angel masih virgin, Wisnu," katanya setengah berbisik. Nadanya memelas.
Wisnu terpana mendengarnya. Sejak awal mencumbuinya, ia memang sudah menduga bahwa gadis itu masih perawan. Terutama karena ia merasakan celah yang sangat sempit ketika menyusupkan lidahnya di antara bibir vagina gadis itu. Tapi bila mengingat keberaniannya menggoda dengan cara merenggangkan kedua lututnya, ia menjadi ragu-ragu. Apalagi karena muridnya itu berani bersekolah tanpa celana dalam. Setelah menarik nafas panjang, diraihnya lengan kanan gadis itu.
"Aku tak akan melakukan hal-hal yang tidak Angel sukai. Aku pun tak akan menyakitimu," katanya dengan raut wajah tulus.
"Tapi adik kecil ini sedang menderita, Angel," sambungnya sambil menunjuk batang Kontolnya yang terangguk-angguk.
"Angel elus-elus ya. Kalau dibiarin, kasihan..!"
Lalu diletakkannya telapak tangan gadis itu di batang Kontolnya. Angel terkejut merasakan panas yang mengalir dari batang Kontol itu ke telapak tangannya. Sejenak ia terlihat ragu. Ia menarik lengannya, tetapi Wisnu meraih dan meletakkannya kembali ke batang Kontolnya. Akhirnya batang Kontol itu digenggamnya sambil menengadah menatap wajah lelaki yang disayanginya itu. Tak lama kemudian, ia menunduk kembali untuk mengamati batang Kontol dalam genggamannya.
"Sesekali agak diremas seperti begini," kata Wisnu mengajari.
"Dan sesekali dimaju-mundurkan seperti ini," sambungnya sambil menggerakkan tangan gadis itu maju-mundur.
Angel mulai mengelus-elus. Ada sensasi yang menggelitik dirinya ketika merasakan kehangatan batang Kontol itu di ujung jari-jari tangannya. Ia mendekatkan wajahnya untuk mengamati urat-urat berwarna kehijauan yang semakin menggelembung di ujung jarinya. Lalu ia mulai menggenggam dan memaju-mundurkan telapak tangannya. Dan ketika mendengar lelaki itu menarik nafas panjang, ia menengadah.
"Kenapa? Sakit?"
"Enak!"
"Enak?!"
"Enak banget! Apalagi kalau pakai dua tangan."
"Begini?" tanya gadis itu sambil menggenggamkan kedua telapak tangannya.
"Ya, ya, begitu, oohh!"
Angel menjadi bersemangat. Ia merasa senang karena dapat memberikan sesuatu yang menyenangkan kepada gurunya itu. Ia ingin membalas kenikmatan yang telah ia dapatkan. Apalagi sikap lelaki itu penuh pengertian. Tak ada sikap memaksa ketika ia mengatakan bahwa ia masih virgin. Ia hanya diminta untuk mengelus-elus dan sesekali meremas batang Kontol itu. Oleh karena itu, tangannya mulai digerakkan maju dan mundur, dari leher batang Kontol hingga ke pangkalnya. Wajahnya semakin mendekat karena ia ingin mengamati cendawan yang menghiasi batang Kontol itu. Cendawan yang semakin lama semakin berwarna merah tua. Dielus-elusnya pula cendawan itu dengan ujung jari jempolnya
"Ooh.., nikmat, Sayang!"
"Kalau diremas seperti ini, nikmat nggak?" tanya gadis itu sambil meremas biji kemaluan Wisnu.
"Ooh, ya, ya!" sahut Wisnu sambil meletakkan kedua belah telapak tangannya di atas kepala gadis itu.
Lalu dengan tarikan yang sangat lembut, ia menarik kepala itu agar semakin mendekat ke Kontolnya. Angel tidak menolak tarikan lembut di kepalanya karena batang kontol itu terlihat sangat indah dan menarik. Ia pun dapat merasakan Kontol itu berdenyut di telapak tangannya, seperti bernafas. Ada sensasi yang mulai menggelitiki saraf-saraf birahi di sekujur tubuhnya ketika ia mengamati Kontol itu. Sensasi itu membuat ia tak menyadari bahwa Kontol yang digenggamnya hanya tinggal berjarak kira-kira 20 cm dari mulutnya.
"Wisnu, ada sedikit pipis di lubang ini."
"Bukan pipis sayang. Itu lendir enak."
"Enak?"
"Ya, enak!" jawab Wisnu sambil memegang jari jempol yang baru saja mengusap-usap lubang kemaluannya.
"Coba deh dicicipi," sambungnya.
"Hmm.." gumam Angel ketika menjilat ujung jarinya.
"Enak 'kan?!"
"Enak!"
"Cicipi lagi! Jangan pakai jari. Langsung pakai lidah!"
Angel menengadah. Ia sangat ingin menyenangkan hati gurunya itu, tetapi ragu-ragu untuk melaksanakannya. Sesaat, ia manatap bola mata lelaki yang disayanginya itu. Dilihatnya binar-binar ketulusan cinta. Tak ada tersirat niat untuk menyakiti. Lalu ia menunduk dan mendekatkan bibirnya ke bagian tengah cendawan itu. Lidahnya terjulur dan ujungnya mengoles sisa lendir yang masih tersisa. Sambil memejamkan mata, ia mencicipinya.
"Enak 'kan?!" Angel menengadah kembali. Ia mengangguk sambil tersenyum malu.
"Sekarang dicium dan dijilat-jilat biar lendirnya keluar lagi! Dan jangan terkejut kalau nanti tiba-tiba ada segumpal lendir yang muncrat ya, Angel Sayang."
Angel menunduk kembali, dan tanpa keraguan lagi dikulumnya cendawan itu. Leher kemaluan itu dijepitnya dengan bibirnya sambil mengoles-oleskan lidahnya.Wisnu mendesah. Setelah menghirup udara yang memenuhi rongga dadanya, ia menunduk. Matanya berbinar menatap takjub. Nafasnya tertahan menatap seorang gadis belia yang cantik dan seksi sedang berjongkok sambil menghisap-hisap dan mengulum kepala Kontolnya. Darahnya mendidih menatap gadis yang berjongkok dengan gaun bagian atas dan bawah bertumpuk terlipat-lipat di pinggangnya yang ramping. Matanya nanar menatap Payudara yang belum sepenuhnya mekar. Sejuta pesona ia rasakan melihat seorang gadis yang sedang berjongkok di hadapannya dengan paha terkangkang. Indah sekali!
"Argh.., aduuhh..!" desah Wisnu sambil menekan bagian belakang kepala gadis itu lebih keras. Setengah Kontol telah masuk ke dalam mulut mungil itu.
Angel menengadah karena mendengar desahan itu. Ia merasa khawatir karena giginya menggesek kulit kemaluan yang sedang dikulumnya. Tapi lelaki yang telah memberinya kenikmatan itu ternyata hanya meringis. Ia masih menengadah ketika merasakan lagi tekanan di bagian belakang kepalanya, tekanan yang membuat ia menelan Kontol itu lebih dalam.

Wisnu mengusap-usap rambut gadis remaja itu. Perlahan-lahan, ditariknya kemaluannya hingga hanya cendawan kemaluannya yang masih tersisa. Dan dengan perlahan-lahan pula, didorongnya kembali Kontolnya. Diulangnya gerakan itu beberapa kali sambil mengamati bibir mungil yang melingkari Kontolnya. Setelah yakin bahwa gadis itu telah terbiasa dengan gerakan Kontolnya, tiba-tiba didorongnya lagi dengan keras hingga bibir mungil itu menyentuh bulu-bulu di pangkal kemaluannya. Angel terkejut. Nafasnya terhenti sesaat. Ia tersendat karena ujung Kontol itu menyentuh kerongkongannya. Sebelum ia sempat meronta, dengan cepat Kontol itu telah bergerak mundur kembali.
"Nggak apa-apa 'kan sayang," kata Wisnu membujuk sambil mengusap-usap pipi gadis remaja itu.
Angel ingin mengatakan 'jangan ulangi', tapi kata-kata itu tak terucapkan karena cendawan itu masih tersisa di bibirnya. Ia menengadah. Sejenak mereka saling tatap. Dan ia melihat sorot mata yang memancarkan kenikmatan birahi, seolah memohon untuk dipuaskan.

Karena merasa tak tega untuk menolak, kembali cendawan itu dihisapnya. Mungkin karena aku belum terbiasa, katanya dalam hati. Akhirnya ia memutuskan untuk memberi kenikmatan total. Kenikmatan sebesar kenikmatan yang telah ia dapatkan. Bila mungkin, ia akan memberi melebihi dari apa yang telah ia nikmati. Percintaan yang membara adalah percintaan yang pasrah dalam memberi, bisik hatinya. Percintaan yang lebih mementingkan kenikmatan pasangannya dari pada kenikmatan dirinya sendiri. Dan ia akan pasrah memberi agar guru yang disayanginya itu dapat pula meraih puncak kenikmatannya.

Lalu Kontol itu dikeluarkannya dari mulutnya. Ia ingin totalitas. Oleh karena itu, beberapa detik kemudian, ia mulai menjilati Kontol itu hingga ke pangkalnya. Bahkan ujung lidahnya beberapa kali menyentuh biji kemaluan itu. Semakin sering lidahnya menyentuh, semakin keras pula didengarnya dengusan nafas lelaki yang disayanginya itu. Ketika merasakan jambakan lembut di kepalanya, tanpa ragu, dihisap-hisapnya biji kemaluan itu.

Ia semakin bersemangat karena merasakan erotisme yang luar biasa ketika Kontol itu menggesek-gesek ujung hidungnya. Ada sensasi yang membakar pori-pori di sekujur tubuhnya ketika bulu-bulu di biji kemaluan itu bergesekan dengan lidahnya! Gesekan itu merangsang lidahnya melata ke arah bawah untuk mengecup dan menjilat-jilat celah sempit antara biji kemaluan dan lubang dubur.
"Aarrgghh..!" desah Wisnu ketika merasakan lidah muridnya itu menjilat-jilat semakin liar.
Bahkan ia mulai merasakan bibir gadis itu mulai mengisap-isap celah di dekat lubang duburnya. Sangat dekat dengan lubang duburnya! Dan sesaat ia berhenti bernafas ketika merasakan ujung lidah gadis itu akhirnya menyentuh lubang duburnya. Ia menggigil merasakan nikmat yang mengalir dari ujung lidah itu. Nikmat yang bahkan tidak pernah ia dapatkan dari isterinya.

Sebelumnya ia tidak pernah merasakan lidah menyentuh lubang duburnya. Apalagi lidah seorang gadis remaja yang cantik dan seksi. Matanya terbeliak ketika merasakan tangan gadis itu membuka lipatan daging di antara bongkah pantatnya. Hanya bagian putih di bola matanya yang terlihat ketika ia meresapi nikmatnya lidah gadis itu saat menyentuh lubang duburnya.
"Oorgh.., aarrgghh.. Nikmat, Sayang!" desah Wisnu sambil menggerakkan pinggulnya menghindari jilatan-jilatan di duburnya.
Ia sudah tak kuat menahan kenikmatan yang mendera tubuhnya. Cendawan Kontolnya sudah membengkak. Lalu ia mengarahkan Kontolnya ke mulut gadis itu.
"Aku sudah tak tahan, Angel!!" sambungnya sambil menghunjamkan Kontolnya sedalam-dalamnya.
Angel tersendat kembali ketika merasakan cendawan itu menyumbat kerongkongannya. Tapi sudah tidak menyebabkan rasa mual seperti ketika pertama kali tersendat. Dan ketika Kontol itu bergerak mundur, ia mengisap cendawannya dengan keras hingga terdengar bunyi 'slurp'. Kedua telapak tangannya mengusap-usap bagian belakang paha lelaki itu.

Lalu ia kembali menengadah. Mereka saling tatap ketika Kontol itu kembali menghunjam rongga mulutnya. Telapak tangannya ikut menekan bagian belakang paha lelaki itu. Kepalanya ikut maju setiap kali Kontol itu menghunjam mulutnya. Ia merinding setiap kali ujung cendawan itu menyentuh kerongkongannya.
"Aarrgghh.., Angel, aku sudah mau keluar. Mau pipis, aarrgghh..! Telan sayang. Telan lendir enaknya ya!"
"Hmm.." sahut gadis itu sambil mengangguk.
Wisnu semakin tegang setelah melihat anggukan itu. Sendi-sendi tungkai kakinya menjadi kaku. Nafasnya mengebu-gebu seperti seorang pelari marathon. Sebelah tangannya menggenggam kepala gadis itu, dan yang sebelah lagi menjambak. Pinggulnya bergerak seirama dengan tarikan dan dorongan lengannya di kepala gadis itu. Hentakan-hentakan pinggulnya membuat gadis itu terpaksa memejamkan matanya.

Kontolnya sudah menggembung. Lendir berwarna putih susu terasa bergerak dengan cepat dari kantung biji kemaluannya. Ia berusaha untuk menahannya. Tapi semakin ia berusaha, semakin besar tekanan yang menerobos saluran di kemaluannya. Akhirnya ia meraung sambil menghunjamkan Kontolnya sedalam-dalamnya. Berulang kali. Ditariknya, dan secepatnya dihunjamkan kembali.
"Aarrgghh.., aduuh! Aarrgghh..!" raung Wisnu sekeras-kerasnya ketika ia merasakan air maninya muncrat 'menembak' kerongkongan gadis itu.
Sesaat ia merasa kejang. Dibiarkannya Kontolnya terbenam. Tangannya mencengkeram kepala gadis itu dengan keras karena tak ingin kepala itu meronta. Ia tak ingin kepala itu terlepas ketika ia sedang berada pada puncak kenikmatannya. Keinginan itu ternyata menjadi kenikmatan ekstra, yaitu kenikmatan karena 'tembakannya' langsung masuk ke kerongkongan gadis itu. 'Tembakan' itu akan membuat kerongkongan itu agak tersendat sehingga air maninya akan langsung tertelan. Setelah 'tembakan' pertama, ia masih merasakan adanya tekanan air mani di saluran lubang kemaluannya. Maka dengan cepat ia menarik Kontolnya, dan menghunjamkannya kembali sambil 'menembak' untuk yang kedua kalinya.
"Hisap sayang, aarrgghh..! Aarrgghh..!"
Ditariknya kembali Kontolnya. Tapi sebelum kembali menghunjamkannya, ia merasakan gigitan di leher Kontolnya. Ia pun berkelojotan ketika merasakan gigitan itu disertai kuluman lidah. 'Tembakan' kecil masih terjadi beberapa kali ketika lidah gadis itu mengoles-oles lubang kemaluannya.
"Ooh.., nikmatnya!" gumam Wisnu sambil membelai-belai kedua belah pipi gadis itu. Belaian mesra yang mengalir dari lubuk hatinya yang paling dalam. Belaian ungkapan kasih sayang dan tanda terima kasih!
Sambil menengadah dan membuka kelopak matanya, Angel terus mengulum dan menjilat-jilat. Tak ada lendir berwarna susu yang mengalir dari sudut bibirnya. Tak ada setetes pun yang menempel di dagunya. Dan tak ada pula lendir yang tersisa di cendawan kemaluan Wisnu! Bersih. Semua ditelan! Gadis belia itu 'membayar' tuntas kenikmatan yang ia dapatkan sebelumnya!

Tak lama kemudian, Wisnu menghempaskan pinggulnya ke atas karpet. Ia merasa sangat lemas. Lunglai. Ia tak mampu berdiri lebih lama lagi. Angel tersenyum puas. Ia pun bangkit dari sofa, dan kemudian duduk di pangkuan Wisnu. Kedua belah kakinya melingkari pinggang lelaki yang masih terengah-engah itu. Posisi duduknya menyebabkan vaginanya bersentuhan dengan Kontol yang mulai mengkerut. Terasa hangat dan mesra.
"Puas?" tanya gadis itu.
"Puas banget!" jawab Wisnu.
"Enak lendirku?" sambungnya.
"Enak banget!"
"Mau lagi?"
"Ha?!" jawab Angel sambil mencubit pipi Wisnu dengan manja.
"Kapan-kapan ya, kita nabung dulu."
"Nabung apaan?"
"Nabung pipis!"
Dan mereka serentak tertawa. Renyah. Lalu saling berangkulan dengan mesra. Pipi mereka saling bersinggungan. Kedua belah tangan membelai-belai punggung pasangannya. Kemudian masing-masing berbisik langsung ke telinga pasangannya.
"Wisnu suka pipis Angel!"
"Angel suka pipis Wisnu!"
******
Tamatlah sudah rangkaian Cerita ABG, Memek Abg, Liarnya lidah Angel Muridku ini.

3 comments:

JONY 11 Februari 2011 16:24  

kok cuman gitu ceritanya.
masukin saja kan enak...............

rhea 4 Juli 2011 01:12  

ahhh ,, liat critanya , trus baca ,, jadi pngen juga ma pacar gw , ahaha ,, enak nihh .. kpan2 bkin yg nikmat ya ,, di masukin aja skalian tuh ..

Anonim 7 Desember 2011 21:37  

Tidak berpromosi blog atau situs atau Link apa saja
2. Tidak melakukan komentar SPAM
3. Tidak mempromosikan Produk

Poskan Komentar


Bebaskan Expresi kalian disini, Bebas nulis apa aja yang ada kalian mau. Mau nulis komentar "memek" atau "kontol" atau "ngentot" atau apa aja tentang gitu²an, boleh! Tumpahkan seluruh hasrat kalian disini, selama ga dianggep spam oleh admin komentar kalian pasti akan muncul.

Syarat berkomentar :
1. Tidak berpromosi blog atau situs atau Link apa saja
2. Tidak melakukan komentar SPAM
3. Tidak mempromosikan Produk

Terima Kasih telah berkunjung
Salam Memek n Kontol ..

Paling Populer

Posting Acak

Langganan Memek Gratis

Masukan Email disini:

Tanggapan Memekers

Follow Memek Kontol !